Prof. Dr. Zakiah Daradjat

May 24, 2011 at 2:31 am (Profil Psikolog)

Psikolog Muslim Perempuan Ternama

Menemukan sebuah catatan seseorang bernama Tarmudi tentang sosok dosennya yang tiada lain juga adalah seorang Psikolog Muslim Perempuan yang namanya cukup dikenal di kalangan ilmuan. Utamanya tentu di dunia Psikologi. Berikut saya share secara detil tulisannya.
Iseng-iseng kepikiran dengan sosok dosen gue mata kuliah kesehatan mental yang bernama Zakiah Daradjat, masalahnya beliau ini masih memiliki semangat mengajar yang tinggi di saat usianya tidak lagi muda. Mau tahu lebih dalam ah, gue baca bukunya yang berjudul  Kesehatan Mental gk ada biografi penilisnya, ya sudah deh browsing lewat mbah google. Ini loh hasilnya yang menurut gue sebagai biografi si Ibu.
Pandai, dengan nilai rata-rata 9, matematika malah 9,5, kemauan belajar Zakiah keras. Tiba di Yogyakarta setamat SMA, 1951, ia mendaftar di dua perguruan sekaligus. Keduanya lulus tes, baik di Fakultas Tarbiyah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), maupun di Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (FH UII). Keduanya ia masuki.
Saat duduk di tingkat III, Zakiah pulang ke desa kelahirannya, Koto Merapak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Mendengar ia memborong dua perguruan sekaligus, bekas guru SMP- nya menasihatinya agar memilih satu saja. ”Kamu jangan terlalu memaksa belajar, nanti sakit,” kata ibunya. Dosennya di PTAIN juga pernah mengatakan: kuliah bersamaan di dua tempat itu susah. Akhirnya, si sulung bersaudara 10 itu menurut.
Di tingkat IV Fakultas Tarbiyah, Kiah — demikian panggilan akrabnya — ditawari meneruskan ke Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir. Merasa bingung, ia menyurati orangtuanya. Jawaban Haji Daradjat dan Hajjah Rafiah singkat saja, ”Pergilah. Kami tahu kau bisa menjaga diri.”. Delapan setengah tahun (1956-1964) di Mesir, Zakiah belajar ilmu pendidikan dengan spesialisasi psikoterapi, sampai meraih gelar doktor. Pulang kampung, ia langsung bekerja pada Departemen Agama. Sampai Maret 1984, Zakiah Daradjat menjabat Direktur Pembinaan Agama Islam. Ia satu-satunya wanita anggota DPA.Di samping itu, sudah 20 tahun lebih Zakiah membuka praktek konsultasi psikologi di rumah kediamannya. Rata-rata ia menerima lima pasien setiap petang, terdiri dari kaum ibu, bapak, dan remaja. ”Tidak saya pungut bayaran. Kalau mereka memberi, saya terima,” ujarnya.
Tetapi, wanita berkulit kuning ini lebih dikenal sebagai penceramah. Pada 1960-an, ia bisa berceramah lima atau enam kali sehari. Sering tampil di RRI dan TVRI, Zakiah tiap hari, kecuali Ahad, memberikan kuliah subuh di Radio Elshinta, Jakarta. Di IAIN Jakarta dan Yogyakarta, Zakiah masing-masing menjadi guru besar dan memimpin Fakultas Pasca-Sarjana. Cukup sibuk. ”Tapi saya melakukannya dengan senang,” katanya.
Pendidik terkenal itu risau akan kehidupan remaja sekarang, khususnya tentang kasus kumpul kebo. ”Saya kecewa sekali,” ujarnya. Ia mengaitkan kenakalan remaja dengan kurangnya pengawasan orangtua, terutama ibu. Menurut dia, idealnya seorang ibu berada di rumah 3w5 jam sehari. Kurang dari itu berbahaya, katanya.
Sejak 1969, Zakiah menulis puluhan buku. Antara lain, Kesehatan Mental (Gunung Agung, 1969), Ilmu Jiwa Agama, dan Problema Remaja Indonesia (Bulan Bintang, 1970 dan 1974).
Ia pernah berceramah di 10 tempat secara berantai, dan terkejut melihat sejumlah orang yang selalu hadir mengikutinya. ”Mereka mengatakan ingin selalu dekat saya,” katanya. ”Mereka kebanyakan ibu-ibu.”

Penggemar renang yang kini hanya melakukan jogging dan orhiba ini masih memilih hidup sendiri
Nama : ZAKIAH DARADJAT
Lahir : Bukittinggi, Sumatera Barat, 6 November 1929
Agama :Islam
Pendidikan :
-Standard School Muhammadiyah, Bukittinggi (1944)
-Kuliyatul Mubalighat, Padangpanjang (1947)
-SMA, Bukittinggi (1951)
-Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Yogyakarta (1955)
-Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir (doktor, 1964)
-Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Departemen Agama, Jakarta (1976)

Karir :
-Pegawai Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama (1964-1967)
-Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum pada Direktorat Perguruan Tinggi Agama (1967-1972)
-Direktur Pendidikan Agama (1972-1974)
-Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam (1977-1984)
-Anggota DPA-RI (1983-198
-Guru Besar IAIN Jakarta (1984-sekarang).

Kegiatan Lain :
-Pimpinan Lembaga Pendidikan Kesehatan Jiwa Universitas Islam Jakarta (1970-1984)
-Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ruhama (1984-sekarang)
-Pimpinan Pendidikan Kesehatan Mental YPI Ruhama (1984- sekarang)

Karya :
-Kesehatan Mental, Gunung Agung, 1969
-Ilmu Jiwa Agama, dan Problem Remaja Indonesia, Bulan Bintang, (1970 dan 1974)

Alamat Rumah :
Jalan Fatmawati 6, Kompleks Wisma Sejahtera, Jakarta Selatan Telp: 763937

Alamat Kantor :
IAIN Jakarta, Jalan Ciputat, Jakarta Selatan Telp 741925

Sumber PDAT Tempo
Prof.Dr. Zakiah Darajat:

Peran Televisi Sebagai Pendidik Harus Dihidupkan Terus

Kapanlagi.com – Acara televisi yang merusak moral masyarakat dan tidak sesuai dengan nilai agama harus dipertimbangkan lagi oleh para pihak penyedia siaran, kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang anak dan keluarga, Prof.Dr. Zakiah Darajat.
“Acara siaran televisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun etika moral masyarakat seharusnya dipertimbangkan lagi oleh para pemilik siaran tersebut, apakah layak atau tidak untuk disiarkan di depan publik,” tegasnya di Jakarta, Rabu.

Ustadzah yang juga psikolog itu mengkhawatirkan akibat buruk dari siaran-siaran yang mengandung unsur kekerasan, seks, dan klenik. Apalagi, siaran tersebut hadir di ruang privat rumah setiap warga yang memiliki televisi, seperti di ruang keluarga dan ruang tidur.

“Penayangan acara mistis yang bisa menumpulkan akal dan logika penonton, ditinjau dari segi agama adalah suatu kesalahan besar,”katanya.
Ia menjelaskan, secara psikologis acara siaran televisi mempunyai pengaruh yang kuat dalam waktu yang lama kepada pikiran penontonnya. Indera pertama yang memiliki pengaruh terkuat pada pikiran adalah penglihatan, kemudian yang kedua adalah pendengaran, dan selanjutnya adalah indera perasa.
Acara televisi yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran penontonnya, menurut dia, memiliki pengaruh yang lebih kuat kepada pikiran penonton dibanding pengaruh media lain.
Zakiah hadir pada rapat dengar pendapat umum antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di gedung DPR, Senayan pada akhir Juni 2004. Saat itu, ia datang mewakili kalangan ulama untuk memberikan pendapat tentang acara siaran televisi.
Ia juga meminta agar para pemilik organisasi televisi tidak hanya mementingkan aspek komersial seperti penayangan iklan yang tidak mendidik, tetapi juga memikirkan peran mencerdaskan masyarakat yang harus dijalankannya.
Selama ini, menurut dia, acara televisi telah berhasil menyediakan informasi dan mendidik masyarakat, tetapi jangan sampai keberhasilan itu dilukai sendiri oleh para insan pertelevisian yang menayangkan acara yang dapat merusak moral.
“Peran televisi sebagai pendidik harus dihidupkan terus, seharusnya televisi bisa menayangkan acara yang dapat membuka wawasan dan menumbuhkan semangat kreativitas, bekerja dan taat beribadah sebagai ganti dari acara yang merusak moral itu,” demikian Zakiah. (*/erl)
http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/18/zakiah-daradjat/
Sudah cukup deh penjelasannya tentang si Ibu ini, ni dia picture yang gue juga dapet, abis mau jepret langsung takut dimarahin…hehe
seperti itulah gaya bu Zakiah dalam mengajar, penampilan yang sederhana, dengan menggunakan kain untuk dijadikan sebagai pakaian bawahnya. Salut deh untuk Ibu Prof. Dr. Zakiah Daradjat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: